Rabu, 11 April 2012

Mengapa Menulis Menjadi Lebih Sulit?

Mengapa banyak orang yang tidak lagi konsisten dalam menulis? Mengapa menulis mulai menjadi hal yang lebih sulit dan lebih sulit? Mengapa oh mengapa??


Haha mungkin pertanyaannya terdengar sedikit alay. Akan tetapi hal inilah yang menjadi uneg-uneg saya beberapa saat ini. Lebih tepatnya saat memulai blog ini. Menulis menjadi lebih berat daripada sebelumnya di blabla tumblr dot kom. Saya terus kepikiran dan akhirnya mendapat sedikit pencerahan.

Jawaban terhadap pertanyaan2 di atas sebenarnya lebih terfokus pada mindset kita tentang untuk apa kita menulis. Dan hasil perenungan saya menghasilkan jawaban yang sederhana. Menulis menjadi lebih berat karena kita berpikir kalau tulisan kita akan dibaca oleh orang lain. Efeknya adalah akan timbul kecenderungan untuk hanya membuat tulisan yang baik saja. Tulisan yang layak dibaca, dengan format yang baik, tata bahasa yang benar, dan topik yang menarik... bla bla bla..

Hal itu secara tujuan baik. Agar orang mudah memahami pesan yang kita sampaikan dalam sebuah tulisan. Namun dibalik itu, pola pikir demikian malah menjadikan menulis menjadi suatu beban. Ada sedikit rasa- rasa negatif, seperti takut, minder, dll, kalau ternyata tulisan kita tidak bagus. Akhirnya kita menulis hanya kalau kita benar2 yakin kalau tulisan kita itu menarik dan layak untuk dibaca orang lain. Ada sedikit rasa ga yakin, ya udah leren (baca: libur :jawa) dulu nulisnya. Ga jadi nulis dah..

Pola pikir seperti ini justru menghambat produktivitas dalam menulis. Selain itu ia berasumsi pada pernyataan bahwa menulis adalah fungsi hasil, bukan fungsi proses. Menulis adalah hasil dari pembelajaran dan pendidikan kita selama ini. Menulis bukan proses untuk belajar. Hal inilah yang salah menurut saya.

Lalu menurut saya bagaimana yang baik dan benar? Kalau saya sendiri menyikapinya dengan dua hal berikut ini:

  1. Sadari kenyataan bahwa tidak ada manusia yang langsung sempurna mengerjakan sesuatu. Bahkan blogger atau jurnalis professional pun saya yakin 1000% kalau dulu pun mereka ya bermula dari amatir. Tulisannya juga pasti kelas amatir. Tidak berbeda jauh dengan kita dan saya yang baru memulai. Hanya masalahnya adalah, kita menjadikan mereka yang sekarang "professional" sebagai standar, bukan mereka pada saat kondisi yang sama dengan kita, sama2 pernah amatir.
  2. Menulis adalah juga proses pembelajaran, bukan hasil. Sama dengan berbicara. Sebagai sebuah kecakapan menyampaikan informasi pada orang lain. Awalnya pasti ada mis-komunikasi. Tapi justru dari sana kita belajar. Kalau bicara seperti ini salah, maka coba bicarakan dengan gaya lain. Kalau menulis dengan ini pembaca mungkin salah tafsir, maka coba tulis dengan format yang lain. 
    Kalau ada yang salah2, jawab begini aja "kan namanya baru belajar" :) ga ada masalah toh. 
    Kalau ada yang menyinggung, ya minta maaf. Apa susahnya sih. Asal jangan diulangi aj.
Saya juga menyadari kalo tulisan saya masih ambu radul (baca:ajur), ga apa kan :) kan namanya baru belajar hehe. Semoga kemampuan menyampaikan informasi melalui tulisan ini dapat terus membaik (emang penyakit pake membaik segala :)).

So, ayo rek kita belajar menulis bareng2. Jadikan menulis sebagai proses pembelajaran menjadikan pribadi menjadi lebih baik lagi. Giatkan kegiatan menulis yang sangat bermanfaat ini. Karena inilah salah satu jejak nyata kalau kita pernah hidup di dunia ini. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar